Wednesday, June 22, 2011

Hamil saat masih menyusu bayi

Berbagai perasaan berkecamuk, waktu saya menerima hasil tes kehamilan anak ke-3. Bingung, sedih dan kuatir begitu berat menggelayut hati. Saya harus tetap mensyukuri titipan ini, tapi di sisi lain gundah pun tak terbendung. Sebab utamanya adalah saat itu anak ke-2 saya Fella, belum genap 8 bulan, sedang kandungan sudah masuk bulan ke-2. Bidan yang mengkonfirmasi kehamilan langsung melarang saya menyusui Fella, hancur hati ini melihat air matanya saat beberapa kali saya berusaha menyapih. Bukan salah Fella bunda hamil lagi, tapi kenapa harus Fella yang paling dirugikan.

Syukurlah, kehamilan ketiga nyaris tidak ada keluhan. So, masalah saya hanya bagaimana menyapih Fella. Tapi hingga minggu ketiga kehamilan terungkap saya tetap tidak berhasil. Saya pun mulai mencari literatur untuk mencari tahu secara ilmiah apa yang harus saya lakukan. Antara sedih harus menyapih dan kuatir janin yang saya kandung kurang gizi. Walaupun selama tiga minggu masa “bingung” saya makan protein 2 kali lipat biasanya, dengan asumsi ada 2 makhluk yang bergantung nasibnya pada makanan yang saya makan.

Alhamdulillah, Allah menolong saya. Menurut satu literatur moderen yang bicara tentang manajemen laktasi, saya sama sekali tidak perlu menyapih Fella. Katanya “Alam sudah mengatur untuk mendahulukan nutrisi janin, kemudian bahan baku ASI, baru memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh Ibu. Jadi kalo ibu baik-baik saja, tidak pusing dan lemas, atau menunjukkan tanda malnutrisi lain, tidak ada salahnya untuk menyusui saat hamil. Meski ini bukan kondisi ideal untuk hamil.” Bahkan literatur itu juga menyatakan, “Setelah bayi lahir, kakaknya tetap harus disusui sampai 2 tahun secara tandem dengan selalu mendahulukan kebutuhan ASI adik bayi.”

Saya pun sujud syukur, bahagia sekali rasanya bisa keluar dari dilema ini tanpa rasa bersalah. Dengan berucap Bismillah, saya berjanji untuk tetap menyusui Fella hingga 2 tahun apapun yang terjadi, dan menitipkan nasib janin di kandungan pada Allah. Saya juga mulai makan teratur dan buanyak karena mudah lapar. Juga minum suplemen vitamin, tambah darah dan kalsium. Bahkan saking serunya nambah asupan protein Fella sampai kena alergi kulit, karena bunda makan terlalu banyak protein hewani.
Akhirnya Faza pun lahir, katanya bayi cowok nyusu lebih banyak, sempet deg-degan juga. Karena 2 kakaknya cewek semua. Saya hanya satu malam dirawat, begitu pulang hal pertama yang saya lakukan adalah belajar menyusui dua anak sekaligus. Can You imagine…? Menyusui satu bayi sambil bobok miring… sementara kakaknya nangkring di atas tubuh saya… Dengan kondisi jahitan post partum yang masih nyer-nyeran sekali. Ada rasa kuatir ASI tidak cukup, padahal kali ini saya rencana memberi bayi ASI eksklusif 6 bulan.

Segala puji bagi Allah, 6 bulan Faza dapat ASI ekslusif tanpa tambahan apapun, dan Fella 21 bulan masih tetap dapat ASI. Waktu Faza umur 10 bulan, Fella baru disapih. Saya kira bakal kurang penderitaan karena ASI masih disedot Faza. Ternyata tetap saja bengkak, padahal sengaja Faza tidak saya beri makan selama masa menyapih Fella untuk mengurangi derita. Faza sampai gigit puting saya, dia kesal sudah kenyang masih dipaksa menyusu terus.

Kejutan datang lagi. Belum 2 bulan Fella disapih, ternyata saya sudah hamil lagi. Saya benar-benar tidak sempat memikirkan KB, karena saya hanya sekali mensturasi selama menyusui tandem, itu pun waktu saya sedang repot menyapih Fella. Sama sekali tidak terpikir pergi ke bidan untuk KB. Eh koq langsung hamil. Sambil terus menata hati untuk tetap mensyukuri titipan Allah ini, kembali saya menjalani masa hamil sambil menyusui plus merawat 2 batita. Alhamdulillah, kali ini saya benar-benar fit. Bahkan mampu bersepeda dengan Fella bonceng di belakang dan Faza di depan, sampai kandungan yang sudah 6 bulan mentok kursi bayi di stang sepeda.

Semua berjalan begitu cepat, tiba waktunya saya melahirkan. Saat itu fella berumur 2 tahun 10 bulan, dan Faza 18 bulan. Anak ke-4 cowok lagi, Ghazi namanya. Setelah dirawat semalam, di rumah saya harus menyusui dua bayi lagi. Dengan rasa sakit post partum lebih parah dari sebelumnya, kata Bu Bidan kandungan harus istirahat minimal 3 tahun karena perlukaan pasca melahirkan sebelumnya tidak pernah sembuh sempurna. Makanya sakit minta ampun, bukan mules tapi perih rasanya di rahim.

Atas izin Allah Ghazi tumbuh lebih pesat dari Faza waktu seumurnya, mungkin karena faktor genetis, dan mendapat ASI Eksklusif 6 bulan juga. Tetapi Faza sulit disapih dan cukup agresif pada adiknya dibanding Fella, untung Ghazi besar jadi tidak begitu terjajah. Menjelang 3 tahun Faza baru berhasil diberi pengertian dan sedikit tekanan untuk mau disapih. Sekarang Ghazi sudah 2 tahun lebih sebulan, masih belum mau disapih. Padahal saya mulai sibuk membuat tulisan dan terima order terjemahan, jadilah saya menyusui sambil mengetik di depan komputer. Demi memberi ASI apapun akan saya lakukan.

Banyak halangan untuk menyusui saat hamil dan menyusui secara tandem. Baik secara tehnis internal antara saya sebagai bunda dan dua bayi yang sering bersaing dalam menyusu. Maupun secara eksternal, yang sering memberi hambatan psikologis, seperti tulisan kontra di literatur sampai komentar para orang lain yang tidak setuju dan menyalahkan kehamilan yang begitu rapat (Is there anything in the world that can stop Allah SWT from sending a baby to a mother’s womb ? Most precious gift from Heaven even when it come unexpected. All we have to do is saying Alhamdulillah from the bottom of our heart and gladly accept it). Katanya kalau masih menyusui saat bunda hamil lagi akan berakibat buruk bagi bayi dan janin. Tapi kenyataannya, saya tidak mengalami satupun hal negatif yang menurut sejumlah sumber mungkin terjadi saat hamil sambil menyusui.

Masa paling berat dalam menyusui secara tandem adalah waktu salah satu sakit, keduanya pasti akan saling tertular. Saat sakit mereka tidak mau makan, praktis nutrisi hanya dari ASI, padahal semua ibu pasti merasakan betapa sulit menelan makanan saat buah hati sakit. Untunglah daya tahan tubuh ketiga balita saya kuat, penyakit paling lama menyerang 3 sampai 4 hari. Saya tidak pernah memberi ketiga batita saya antibiotik selama pemberian ASI, kecuali sekali saat Fella dan Ghazi terkena radang saluran telinga. Bahkan Faza belum pernah sekalipun hingga detik ini menelan antibiotik. Obat herbal adalah senjata saya. Berkat rahmat Allah, dengan ASI ketiga batita saya tumbuh sehat dan cerdas.

Teman-teman para bunda yang saya cintai, asal ada niat kuat tidak ada alasan untuk berhenti memberi bayi ASI sebelum 2 tahun. Karena ASI adalah syurga pertama yang dapat kita berikan pada buah hati di Golden Agenya. Semua literatur yang saya baca bahkan Kitab Al Qur’an sendiri menyerukan untuk memberi ASI hingga 2 tahun. Karena saat itulah otak berkembang paling pesat hingga 80% dari total massanya saat dewasa dan ASI dengan segala keistimewaannya adalah bahan baku terbaik untuk membangun otak. Sadarilah bahwa syurga di bawah telapak kaki ibu bukan barang gratisan, hanya bunda yang mau mensyurgakan anak-anaknya berhak atas syurga ditelapak kakinya. Sekarang semua sarana sudah tersedia lengkap untuk mendukung pemberian ASI, bahkan saat bunda harus pergi kerja. Apa masih ada alasan yang pantas diterima untuk tidak memberi ASI ???
Smart Parenting, by Bunda Arifah Handayani

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget